Posted by: Gatot Pramono on: Desember 13, 2007
Bagi para penghafal Al Quran yang pemula, menambah hafalan mempunyai kesulitan tersendiri. Tetapi seiring dengan waktu kesulitan ini akan terlampaui. Ketika itu kesulitan lain timbul yaitu mengulang hafalan (murajaah). Pada saat hafalan makin bertambah banyak, murajaah juga semakin berat.
Untuk surat-surat yang agak panjang (50 ayat) dan yang panjang (diatas 100 ayat), biasanya kita sangat hafal separuh awal dari surat tersebut. Untuk separuh terakhir sulit bagi kita untuk mengingatnya. Ini akan ditandai dengan “macet” ketika saat memurajaah. Mengapa hal ini terjadi? Hal ini disebabkan kita selalu menghafal/murajaah dari awal surat (ayat 1). Ketika selesai menghafalkan sebuah surat, ayat-ayat awal itulah yang lebih sering dilafadzkan dibandingkan dengan ayat-ayat yang akhir. Sehingga otak kita lebih hafal ayat-ayat awal. Itulah sebabnya kita sangat hafal ayat-ayat awal surat dan sering lupa pada ayat-ayat akhir surat.
Kesulitan kedua adalah ketika kita „macet“ sulit bagi kita untuk mengetahui ayat selanjutnya. Ayat-ayat setelah „ayat macet“ menjadi gelap. Ini dikarenakan kita menghafal secara sekuensial/berurutan, sehingga satu ayat selalu diingat setelah ayat sebelumnya. Sehingga kalau ayat “sebelumnya” macet maka ayat selanjutnya menjadi hilang juga. Dalm hal ini tidak ada cara lain untuk mengingatnya selain membuka mushaf Al Qur’an.
Lalu bagaimana cara efektif untuk menanggulangi masalah tersebut?
Kuncinya adalah ketika proses menghafal sebuah surat dilakukan. Hafalkan surat dengan cara memotongnya menjadi 10 ayat 10 ayat. Di dalam tiap sepuluh ayat potong-potong lagi menjadi 5 ayat-5 ayat.
Misalnya kita menghafal surat An Naba yang didalamnya ada 40 ayat. Caranya adalah sebagai berikut :
Kemudian bagaimana anda murajaah sebuah surat bila kita telah menghafal secara konvensional? Bila surat tersebut ayat-ayatnya pendek maka kelompokkan menjadi 10 ayat-10 ayat. Hafalkan per 10 ayat. Bila suratnya berayat yang panjang-panjang seperti Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa dll, maka pecah 10 ayat menjadi 5 ayat-ayat.
Manfaat dari menghafal dengan sistem potongan ini adalah:
Melakukan metoda ini tak sesulit membaca baris-baris di atas. Bila anda melakukannya ini adalah hal yang sangat simpel. Metoda ini menjadikan kita santai dan tidak stres dalam memurajaah. Karena kita mempunyai „petunjuk/milestones“ dalam surat-surat hafalan kita yaitu ayat 1, 11, 21, 31, 41 dst. Kita akan memurajaah „ayat-ayat pendek“, yaitu 10 ayat saja. Cobalah anda praktekkan dan anda akan terkejut dengan hasilnya.
Selamat bermurajaah!
Assalamu’alaikum Wr Wb,
Terimakasih atas tip nya, insya ALLAH saya akan coba, dan akan saya sampaikan ke jama’ah yang lain.
Semuga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat. Aamin
alhamdulillah, terima kasih tipsnya.
Mohon tanya, bagaimana hukumnya menghafal surat di sembarang tempat? Misalnya sambil jalan, sambil nyetir. Bolehkah menghafal di jamban?
Assalamu ‘alaikum wr wb,
Yth Bpk Mustangin, terimakasih sekali atas commentnya.
Sepengetahuan saya, tidak ada larangan untuk melafazkan Al Qur’an dimana dan kapanpun kita berada. Kecuali dalam 2 kondisi :
1. Ketika dalam keadaan junub (setelah berhubungan suami stri dan belum mandi besar)
2. Ketika di dalam jamban.
Menghafal al Qur’an merupakan salah satu bentuk dari ingat kepada Allah –dzikrullah-. Sedangan dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 191 disebutkan : (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”
Bukankah dalam setiap detik kehidupan kita selalu dalam posisi berdiri, atau duduk atau berbaring ? Inilah salah satu dalil yang menyatakan bahwa zikrullah sangat dianjurkan kapanpun dan dimanapun.
Memuraja’ah Al Quran merubah waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Sehingga kita tidak pernah bosan dalam menjalani waktu yang ada di depan kita. Ketika menunggu teman, menunggu anak keluar dari sekolah, menunggu isteri di pasar atau menunggu shalat di masjid, menjadi saat-saat yang berharga untuk mengulang hafalan kita.
Saya sendiri mempunyai kebiasaan muraja’ah Al Quran ketika menyetir mobil pergi dan pulang kantor. Bahkan ketika macet, kita terhindar dari bosan dan keluh kesah. Terkadang karena macet saya tambah hafalan beberapa ayat. Macet yang membawa berkah ! Untuk itu jangan lupa sediakan mushaf Al Quran di dalam mobil agar selalu ada ketika kita memerlukannya.
Selamat menikmati hidup bersama Al Qur’an ! Insya Allah Bapak akan merasakan hidup ini makin bermakna, makin indah dan Insya Allah tambah berkah !
Wallahu a’lam bis shawab
Wassalam
Ummu Alya/Dipl.Ing. Retno Satyadahaningtyas MSAe DEA
Wa alaikum salam wr wb,
Pak Setyo Budiono, terimakasih sekali atas commentnya dan juga ikhtiarnya untuk menyampaikan kepada rekan-rekan lain. Memang kita harus menggiatkan kesenangan menghafal Al Quran ini kepada seluruh umat muslim.
Amin 3x. Terimakasih doanya Pak
wassalam
masya 4JJI, tipsnya bagus sekali. Saya memang lagi memasang target untuk menghafal dan memahami juz 30. Mudah2an tips ini berguna. Amin
Great tips!
Sorry, what’s “macet”?
syukron
wah…..
thank’s y bwt tips nya,,,,
alhamdulillah, sangat bermanfaat, insyaAllah. Terimakasih.
sukron ust.atas tipsnya,semoga saya bisa mengamalkannya
syukron, tipsnya
itu yang lagi ana kumpulin.. n dilaksanakan
tapi kalo udah bisa nanti dapet sendiri metode yang cocok
giman orangnya
yang jelas kuncinya satu “istiqomah”
betull??
insyaAllah akan saya coba..maturnuwun..jazakumullah,akhi
thanks for your valuable advices
alhamdulillah,…
dpt ilmu baru. cz ana sgt kesulitan menghafal ayat al qur’an
insyaAlloh sgt berguna.
Jazakumullah semoga menjadi amal sholeh.Insya Allah mau saya coba,hanya saya mau bertanya, apa bedanya dengan kebiasaan menghafa dengan menggunakan Qur’an pojok.Kita menghafal dengan batasan perhalaman atau perpojok.
jazaakumullah khoiron katsiiron
Assalamu alaikum wr wb,
Ummu Amjad yang shalelah,
Sebelumnya mohon maaf saya baru sempat membalas sekarang, karena sempat beberapa waktu tidak menjenguk web kita ini.
Pada intinya ini hanya sebuah metoda/teknik Ada bermacam-macam teknik menghafal yang ada. .. Kecocokan sebuah teknik tergantung pula pada personality dan kondisi setiap individu. Tetapi yang penting kita menghafal Al Qur’an. Begitu bukan ukhtii ?
Teknik yang saya kembangkan adalah gabungan antara menghafal dan teori optimalisasi fungsi mengingat pada otak yang saya dapat dari Quantum Learning. Teknik ini mempunyai beberapa manfaat :
1. Setelah sekian lama bermurajaah, maka kita akan hafal nomor ayat dari surat yang kita hafalkan. Bonus yang sangat berharga bagi yang yang sering diminta ceramah / menulis
2. Dengan pengelompokan berdasarkan 5 jari (untuk ayat-ayat panjang seperti al Baqarah misalnya) dan 10 jari (ayat-ayat pendek dan sedang) maka kita memiliki control yang baik pada hafalan. Kalaupun kita lupa sebuah ayat, minimal kita akan masih bisa meneruskan murajaah –dengan sedikit lompat ayat- karena biasanya ayat 1,11,21,31, dst dan 6,16, 26. 36 dst adalah ayat-ayat yang lebih hafal dari ayat yang lain.
3. Menanggulangi error menyeberang ke surat lain ketika sampai pada ayat yang sama bunyinya . Misalnya: surat Ash Shaffat : 17 bunyinya sama dengan Al Waqiah::48. Ashhafat :17 jatuh pada jari telunjuk tangan kanan dan Waqiah : 48 jatuh pada jari tengah kanan. Perbedaan ini menjadikan reflek kita tergelitik ketika terjadi ‘penyeberangan surat’.
4. Dengan memindahkan memori hafalan pada jari-jari kita maka ‘hafalan’ kita pindahkan ‘keluar kepala’ alias ke jari-jari kita. Saya juga mempunyai banyak teman-yang menghafal dengan sistim pojok. Bila mereka lupa maka mereka harus melihat mushaf yang sama. kalau mushafnya hilang/tidak dibawa, wah jadi ribet. Tapi mereka heran melihat saya tidak selalu harus melihat mushaf yang sama ketika lupa. Saya bisa dengan leluasa melihat mushaf yang mana saja, karena memang patokannya nomor ayat, Akhirnya teman-teman yang sistim pojok mengkombinasikan sistim pojok dan sistim jari. Ide yang baik juga !.
Saya memang belum pernah memakai system pojok karena saya menghafal dengan memahami arti dan meresapi maknanya.. Sebelumnya saya menghafal dengan terjemahan Al Qur’an yang dari Arab Saudi., sedangkan sekarang saya menghafal dengan Inayah (tarjamah kata-perkata), sehingga sekali ‘mendayung dua-tiga pulau terlampaui’, hafalan dapat, maknanya juga dapat. Demikian masukan saya. Semoga memuaskan Ibu.. .
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hambaNya yang mencintai Al Qur’an.
Wassalam
Ummu Alya
alhamdullilah, trimksh byk…… akan di coba dan mohon dizin di copy tuk keluarga
Sama-sama Pak. Silahkan saja dicopi, semakin banyak yang membaca dan mengamalkan semakin berkah..
wassalam
jzk….
syukron,,atas saran2nya!mudah2an bermanfaat.
Tipsnya Ok…. tapi bagaimana menyimpan hapalan yang udah ada…. bila hapalan makin banyak bagaimana mengingat hapalan yang sebelumnya.
Ass Wr Wb,
Jazakillah khairan atas tipsnya ,saya akan segera mencobanya dan tidak lupa akan saya sampaikan tips ini kepada teman2 yang lain yang susah sekali dalam menghapal Al-Qur’an.
Syukran….!!!
Tolong dijelaskan hubungan akhlak dengan menghapal Alquran
Assalamu ‘alaikum wr wb.
Alhamdulillaah…, Mudah-mudahan ini salah satu jalan keluar ttg masalah yg sedang saya hadapi, yaitu beratnya muroja’ah.
Syukron. Jazakillahu khoiron katsiron
Wassalamu ‘alaikum wr wb
terimakasih ust. atas tipsnya!!!
syur0n,,, sudah memberikan tehnik” untuk menghafalkan al-Qur’an…
Assalamu ‘alaikum wr wb.
Alhamdulillah, terima kasih atas tips-nya, mohon ijin untuk di cetak buat anak yg lagi belajar menghafal Al-quran.
Wassalamu ‘alaikum wr wb
Eh………gitu ya,iyyyaya,saya jadilupa,tangankan bukan hanya untukmakan,nulis,juga untuk ngapal………bagusss goood
Januari 15, 2008 pada 12:14 pm
syukran,insya allah saya akan coba